Ini cerita tentang Miya.
Miya, 37tahun, seorang istri kedua. Berjilbab dikepala. Beranak tiga. anaknya satu perempuan dua laki-laki. Istri pertama suaminya ada di Sidoarjo. Jadi di Jakarta, Miya sang nyonya. Hidupnya pas-pasan. Dengan gaji suami yang harus dibagi. Orang tua Miya sudah tiada. Keluarga miya tinggal satu, Pak De-nya, seorang pengacara sukses di Jakarta. Tapi Miya benci Pak De-nya. Buat Miya, orang kaya itu bentuk ketidak adilan Tuhan. Kenapa Pak De dan keluarganya tidak pernah kekurangan, sedangkan Miya hidup susah?
Malam itu
Miya berjalan dengan sikap waspada. Celingak celinguk kanan kiri. Waspada terhadap orang2 sekitar. takut ketahuan.
Miya turun angkot berwarna merah bernomor 34 itu. Miya berjalan masuk gang kecil tanpa nama tersebut. Persis seperti instruksi yang dia dapat. Ujung gank, pagar hitam. Konon rumah berpagar hitam diujung gank tersebut adalah kediaman si Mbah. Mbah dukun serba bisa, katanya.
Miya memantapkan langkahnya. Berusaha menghilangkan bayang2 pertengkaran dengan suaminya.
"Mbok yaa kamu pikir toh Miya, mosok gara-gara kalung emas 5gram saja kamu mau nyantet orang! Musyrik Miya...musyrikk. Dosa kamu..Nanti malah kamu yang kena..kasian kan anak2..."
Suaminya mengomel, berusaha menahan Miya pergi.
"Ah, kamu tuh Mas. Sebodo! Pokoknya aku santet aja itu anaknya. Biarrr mampusss...Orang2 kaya sialan! Sombongnya mas...Kenapa juga meraka musti banyak uang kita engga? biar! biar tau rasa! biar saja musyrik. kmu diem aja deh! banyak cingcong!"
Miya membalas ketus seraya beranjak pergi.
Miya dendam mati2an dengan sang Bu De, istri Pak De-nya yang tidak mau memberikan kalung emas seberat 5gram peninggalan Ibu Miya. Kata Bu De "Nanti kamu gadai lagi Miya, lebih baik tunggu anak perempuanmu masuk SD saja, nanti Bu De kasih buat dia. Kalau kamu yang pegang cuma buat digadai!"
Miya mau marah. Darahnya memanas. Mukanya memerah. Tapi dia tak bisa melawan kemauan Bu De nya. Dia hanya diam dan dalam hati merancang niat balas dendam.
Malam itu niatnya sudah bulat.
Dengan bermodal foto kedua anak Pak De yang ia dapat ketika kunjungan lebaran ke rumah Pak De-nya. Uang 5000 perak untuk angkot dan 30 ribu perak untuk mbah dukun. Dan instruksi arah dari Mbak Icem, tukang warung depan rumahnya. Miya bertekad bulat menuju rumah Mbah Dukun. Berpagar hitam diujung gank.
Miya menjejakkan kaki kedalam rumah itu setelah beberapa kali mengetuk.
Tercium bau kemenyan di dalam ruangan itu. Miya bergidik. Bulu-bulu halus ditangannya berdiri. Merinding ketakutan.
Tapi sebodo setan. niat Miya sudah bulat. Miya mau balas dendam. Miya mau nyantet.
Jantung Miya berdebar kencang ketika si Mbah keluar. Suara si Mbah berat dan menakutkan.
"Apa yang bisa saya bantu?" tanya si Mbah dengan muka tetap menunduk dan tertutup rambut2 dimukanya.
"Saya mau minta tolong Mbah. Saya mau Mbah buat susah hidup anak2 Pak De saya. Saya mau mereka jatuh miskin. Ga ada jodoh. Penyakitan! Pokoknya sebisa mbah, asal jangan dibuat koid saja!" seru Miya berapi-api.
Mbah itu hanya ngangguk2 saja.
Setelah beberapa menit, si Mbah buka mulut "Kamu tahu konsekuensinya?"
"Apa Mbah?" tanya Miya.
"Yah, kalau ternyata kamu yang jahat, ini semua bisa berbalik ke kamu"
"Ah, persetan Mbah. Saya benci mereka sekeluarga Mbah. Saya percaya Mbah bisa bantu saya. Toh Tuhan juga ga bisa bantu!!!"Miya menyahut tetap berapi2.
Si Mbah hanya mengangguk2.
"Ini, kamu lemparkan ini ke halaman rumahnya tengah malam nanti..." kata si Mbah sambil memberikan sebuah bungkusan kecil.
"Terimakasih mbah...terima kasih...Mbah memang penyelamat saya...."Miya sangat berbahagia.
Setelah memberi amplop berisi uang 30 ribu perak. Miya pamit pulang.
Miya berjalan menyusuri gang tersebut.
Miya tersenyum-senyum sendiri "Biar mampus kalian semua!" serunya dalam hati.
Terbayang di benak Miya bagaimana sakit hatinya...
Ketika sewaktu kecil Miya harus berpanas-panas naik angkot, sedangkan anak-anak Pak De menyetir mobil sedan ber ac.
Ketika Pak De mengamuk pada Miya karena Miya bolos sekolah selama satu bulan, dan hanya bermain2 dengan anak komplek sebelah.
Ketika Pak De akhirnya membuang Miya ke kampung, karena pada usia 17 tahun, Miya kepergok tidur dengan suami orang.
Ketika akhirnya Miya hamil diluar nikah, dan Pak De mengusir Miya dari rumah...
"Cuih! jahanam mereka semua!! Biar tau rasaaa gw santet!" Miya bersumpah serapah dalam hati.
Miya terus berjalan. tersenyum senyum. Berkhayal akan kemenangannya.
Miya terus menggenggam erat bungkusan kecil dari si Mbah.
Miya merasa sangat bahagia. Bahagia karena akhirnya ia bisa balas dendam.
Tak sabar menunggu jam 12 tengah malam.
Miya terus berjalan...
Tak sadar Miya berjalan melewati rel kereta api.
Hitungan detik tanpa Miya sadari, badanya terasa terbentur keras. Suara kencang tak jelas teras merobek2 gendang telinganya. Sakit merasuki sekujur tubuhnya.
lalu semua hitam.
"Tolong..........tolongg......ada perempuan tertabrak kereta api!!!" jerit Bu Sri, warga sekitar situ,
Bu Sri panik melihat mayat tersebut. Penuh darah. Tak berbentuk. Bu Sri mulai histeris.
Warga Rt 09 sekitar mulai berdatangan berkerumun.
Beberapa berteriak histeris melihat sekujur tubuh manusia yang penuh darah dan agak hancur terbaring di rel kereta api tersebut.
"astagfirullah al azhiimm...inna lillahiii...ya Gustiii...." teriak seorang perempuan tua yang histeris melihat pemandangan didepannya.
Malam itu Jam 10.50. 1jam 10 menit kurang dari jam 12 tengah malam.
Warga Rt 09 tersebut bergerombol melihat kecelakaan maut tersebut.
Seorang perempuan. Berusia 30an tertabrak kereta api.
Perempuan tersebut meninggal dunia.
Penuh darah. Dengan tangan kiri utuh menggenggam sebuah bungkusan kecil berwarna hitam.
Yah. perempuan tersebut berbaring tak bernyawa. Tak bernafas.
Namanya, Miya.
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Yang menguasai hari pembalasan..Hanya Engkaulah yang kami sembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan..Tunjukilah kami jalan yang lurus. (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat. (Terjemah QS Al-Fatihah; 1-7)
[ALL CHARACTERS ARE NONEXISTENT. CERITA INI SERATUS PERSEN HANYA REKAYASA PENULIS ]

No comments:
Post a Comment