11.14.2008

Against Pedophilia!



An issue that has been bothering my mind is sexual violence towards woman or in this case towards "girl". Beberapa minggu belakangan ini, (selain acara2 sampah di tv lokal indonesia) berita yang sering saya denger tentang syekh puji dan istrinya yang masih berumur 12 tahun and his intentions untuk mengawini anak2 bawah umur lainnya. Well, bukan ini yang mau saya tulis..cause i'm sick talking about that issue, secara setiap kumpul sama temen2 saya, bawaannya trashtalk tentang si bapak syekh itu...Niwayys agak berhubungan dengan pria berumur dan seks dengan anak dibawah umur, last Sunday, seseorang yang saya kenal yang cukup dekat sama keluarga saya, sebut saja Mbak X, menyampaikan berita (dengan segala kepanikannya) bahwa adiknya yang berumur 11tahun (katanya) diperkosa...Ironisnya, oleh seorang pria menikah berumur 42 tahun...Sampai disitu saja beritanya sudah cukup buat geger, yang berkelanjutan harus visum di RSCM, lapor polisi ini itu ini itu...Sampai akhirnya 3jam setelah berita pertama yang saya dengar, Mbak X kembali memberi kabar...kali ini dengan suara penuh kekecewaan dan menangis lebih kencang dari telpon pertama..Well I actually wondered what could be worse? Ternyata ketika polisi menginterogasi si korban (adik kecil berumur 11tahun) dan si oknum tertuduh (bapak2 42tahun), mereka akhirnya mengakui mereka BERPACARAN dan melakukan seks karena suka sama suka dan menyatakan bahwa pernyataan sebelumnya tentang perkosaan hanya semata2 karena si adik kecil ini takut ketahuan kakak2nya (kebetulan orang tua mereka sudah tidak ada) kalau dia berpacaran...Yang ada pengakuan mereka, membuat tambah geger...karena keluarganya yang udah terlanjur lapor polisi jadi malu dan tambah pusing..dan pastinya gimana kelanjutan nasib si adik kecil, deflowered by a married man who is actually 3times older than her? Ironis banged nasib anak kecil tersebut...saya sendiri belum tahu kelanjutan cerita ini gimana, but anyway it got me thinking, masuk akal ga siyh anak umur 11tahun berpacaran dengan laki2 menikah umur 42tahun dan berhubungan seks atas dasar mau sama mau? I mean, tahu apa adik kecil itu tentang seks? ditambah lagi di Indonesia sendiri, pendidikan seks tidak masuk dalam kurikulum sekolahan (well i dont know about high school) tapi yang pasti anak SD ga dapet pendidikan seks di skolah..dan in general, pola didik keluarga indonesia pada umumnya masih banyak yang tabu membahas tentang seks..apalagi dalam kasus adik kecil tersebut, dia sudah tidak ada orang tua yang memantau perkembangannya dan kakaknya yang belasan tahun lebih tua sibuk mencari uang untuk menghidupi keluarga. Saya jadi mikir aja, hal seperti itu kira2 bisa dikategorikan kekerasan seksual atau bukan? Dan menyedihkan aja, karena sebenarnya anak umur 11tahun belum bisa dikategorikan mampu untuk membuat keputusan penting akan dirinya..

I personally think that based on many similar cases that occurred these days, harusnya setiap anak sudah berhak dari dini mendapatkan at least basic knowledge about human biological thingy and stuffs...so that these kind of things can be prevented. Kalau saya sendiri berpendapat setiap perempuan punya hak akan apa yang dia lakukan akan dirinya, whether she wants to keep her virginity until she gets married or not, i dont have any specific judgment on this matter, karena menurut saya hal itu PILIHAN. pilihan yang setiap perempuan bebas menentukan dan pastinya aware akan konsekuensi yang ada. Tapi kalau pilihan itu diberikan kepada anak bawah umur yang bahkan mungkin makan aja masih disuapin ibunya, gimana jadinya? Jadi ingat juga cerita2 pendek yang ditulis Djenar maesa ayu, yang umumnya berisi tentang seorang bapak tiri yang memperkosa anaknya yang cuma berakhir trauma berkepanjangan yang ga sembuh2. pathetic isnt it? buat saya siyh cerita2 itu pathetic, karena di cerpen2 itu, umumnya si korban stuck sama trauma masa kecilnya and bahkan trauma itu tetep menghantui sampai dia cukup umur when she can make the right decision about sex and when she actually can enjoy it. Tapi balik lagi mau dirasain terus2an ataupun dilupain, i am so sure that those kind of traumatic things emang susah untuk dihapus, dan balik lagi ke individunya apakah dia mau move on atau ngga...

Hmph! kasian si adik kecil ini, jadi lampiasan nafsu laki2 hidung belang berumur 3kali lipat. Suatu keputusan yang saya yakin beberapa tahun dari sekarang when she looks back, akan dia sesali habis2an...Sayangnya di negara tercinta saya ini, segala hal yang berhubungan sama seks, pasti langsung dipandang negatif, tabu dan mesum...well let alone sex, goyangan tari tradisional aja dianggap haram dan mesum (padahal orangnya aja yang pikirannya kotor)...Kalau saja, pendidikan seks bisa dipandang dengan pikiran yang lebih terbuka...pasti kasus2 pedophilia bisa berkurang dan perempuan khusunya perempuan2 dibawah umur tidak terus menerus menjadi korban...

*check out : http://osocio.org/category/abuse/

My Ex....The Casanova...

Minggu dini hari, atau lewat hari sabtu lewat tengah malam, tepatnya jam 1.45pagi. I was driving by myself after having good times with my mates and some glasses of wine...Yeah, consider me crazy....driving after drinking...tapi apa mau dikata, buat saya itu biasa nyetir sendiri and not depending on anyone to drive me or take me places...and i always drink responsibly =D Malam itu, karena agak terbawa beberapa creepy stories dr temen2 saya, i was ooking for a companion to talk to and decided to call a "friend" of mine..actually this friend of mine is my ex boyfriend, bisa dibilang saat ini satu2nya mantan saya yang masih berkomunikasi baik sama saya..tanpa embel2 ribet yang biasanya i experienced from my other ex-boyfs (seperti temenan tapi bawaannya curiga takut balikan lagi, curiga takut keganggu hubungan ama pacarnya, nanya2 my life and other things)...
Setelah dua kali dering, telpon diangkat....kira2 begini:

dia : "malem2 gini darimana dear? mabiks kamu ya?"
saya : "Ngga kok. nih lagi nyetir and completely sober, temenin ngobrol ya ampe rumah...ganggu kamu ga? kalo ganggu ga usah"
dia : " hmmm....gak ganggu kok..." (nada biasa)
[ngobrol2 ga penting hampir satu menit...lalu terdengar suara perempuan giggling2]
saya : "hon,,udahan aja deyh, aku males ganggu kamu...aku gpp kok nyetir ga telponan" (berusaha ga nanya2 lebih panjang)
dia : "aduh kenapa sih? aku lagi ga ngapa2in kok...ini aku juga sendirian. jam segini nyetir sendiri bahaya tau. kita ngobrol aja sampe kamu nyampe rumah"
saya : "tapi kayanya kamu lagi ada tamu juga khan..."
dia : "ngga..." (ngotot)
[ selanjutnya terdengar "bunyi2an" aneh ]
saya : "udahan aja deh! aku bisa nyetir sendiri!!!"
dia : "kenapa sih kamu...biarin aja nih cewe ****** aku, yang penting kan aku nemenin kamu ngobrol"
saya : "ah sakit kamu ah!" (matiin telpon)

Setelah telpon mati saya cuma bisa narik nafas. Inget salah satu adegan di tv series lipstick jungle ketika si Victory Ford menelpon mantannya and he still picked up the phone while he was having *** to someone else. Bleh, how crazy is that?? Hanya saja, kelakuan Dia saya sudah biasa. Dari awal kenal tujuh tahun yang lalu jaman masih pake putih abu2, sampe sekarang, when we actually are older and more mature, masih aja Dia gak berubah2 with his swaggering self-confidence. a really high confidence of his charm, his wealth, his appearance...Even when he claimed that he was being serious, still he randomly hooked up with girls whom afterwards he would only forget their existences..
I never understood what is it that he's seeking for..Kadang saya suka bertanya2, apa siyh yang menyebabkan ada laki2 yang bisa main perempuan dengan enaknya and walk away without feeling guilty whatsoever? Hmph, in my life, laki2 womanizer bukan cuma dia yang saya kenal. beberapa temen main saya pun juga ada yang mempunyai gejala2 dan tingkah laku seorang womanizer, tapi baru dari mantan saya ini i eventually kinda understand the possible reasons of it all....When i was still attached to him, tentunya semua attitudenya cuma menimbulkan stress and marah2 berkepanjangan sampai saya gak ngerti lagi gimana caranya biar manusia satu itu bisa berubah..but after we became friends, i learn that he is just a lonely little boy who cant find his way home...he feels that no girl accepts him for who he is, he thinks that girls are only after his appearance, his money, et cetera,,which is menurut saya ga smuanya bener (at least, i didnt do such things to him)..dari situ membuat dia merasa lebih baik ga emotionally involved dengan perempuan and instead just making the most of being physically attached to many women...bottom line, he is afraid to fall deeply in love, dan itu menjadi alasan dia untuk ga bisa stick sama satu perempuan and instead, tetap berganti2 dari satu perempuan ke perempuan lain..setiap kali he feels like falling in love, he backed himself off...dan mencari cara untuk membuat perempuan itu mundur dari dia....yeiyh, weird, huh?

Saya jadi inget kata2 di lirik lagu Britney Spears yang berjudul womanizer "you got the swagger of a champion, too bad for you, you just cant find the right companion, i guess when you have one too many, makes it hard"...Lirik lagu itu menurut saya sesuai sama realita yang ada, laki2 player itu sebenernya patut dikasihani, karena they dont even know what they really want, so that they cant find the right companion...dan ketika mereka bisa mendapatkan banyak perempuan dengan gampang, hal itu malah membuat mereka lebih susah lagi menentukan pilihannya...
Hmph...womanizer pun juga manusia yang pastinya se-brengsek2nya mereka tetap punya perasaan dan hati...hal ini juga yang membuat saya tetap betah temenan sama mantan saya yang satu itu, altho he is such an awful jerk to many women, but i know inside him there's a good heart...and he actually taught me a lot untuk lebih bisa membuat keputusan yang lebih rasional dalam hal relationship and also taught me how to protect my heart from breaking into pieces when it comes to men like him...and somehow my friendship with him changed my judgment towards men who fancy playing games...

"For some unknown reasons, BAD BOYS draw you in, despite the facts that they are jerks" -Alexis Bledel-


** Casanova => is a nother word for womanizer which is taken from a story of ladykiller from Venice, Italy
(http://psychology.suite101.com/article.cfm/the_inner_workings_of_a_womanizer)