Saya (berusaha) tidak percaya.
Mereka semua berkoar dengan penuh emosi.
Kata mereka kamu anjing. Kata mereka kamu ular berbisa. Kata mereka kamu binatang buas.
Saya diam saja.
Saya tahu kamu bangsat. Saya tahu kamu mata keranjang.
Tapi kalau kamu binatang?
Saya baru tahu.
Saya masih terbengong.
Tetap bingung memilih pihak.
Mereka bilang kamu sakit hati sama saya.
Saya ulang satu juta kali didalam batin saya "kamu sakit hati"
Tetap batin saya tak bergetar.
Kamu sakit hati? bukannya saya yang sakit hati?
Mereka semua marah.
Walaupun saya tetap duduk terbengong, tanpa kata2.
Tapi angan saya jauh terbang entah kemana.
Saya tahu kamu gak pernah cinta.
Mau saya bilang satu juta kali saya cinta dan rela terjun dari puncak menara.
Kamu gak pernah cinta.
Bukannya pengorbanan saya tak terhitung.
Sedangkan ucapan terimakasih kamu bisa saya hitung? yaitu nihil?!
Tetap saya bingung.
Saya bikin kamu sakit hati?
Sinting.
Kata mereka kamu sinting.
Kali ini saya setuju kamu sinting.
Yang sakit hati itu saya, bukan kamu.
Kalau bisa saya lepaskan sakit hati saya pada kamu.
Maunya saya sendiri yang balaskan kamu, tengah malem jumat kliwon.
Saya bilang sama mereka.
Saya sakit hati sama kamu. Saya mati hati sama kamu.
Kalau saya mampu..
Saya racunin makanan racikan kamu.
Saya perkosa kamu, disaat kamu menggelinjang kesakitan berusaha menghirup udara dunia.
Saya torehkan tanda sakit hati saya dikulit mulus dan muka porselin kamu.
Dan ketika saya orgasme, dan nafas kamu tinggal selangkah lagi.
Saya potong penis kamu yang telah menghancurkan hidup banyak orang dengan golok.
Dan saya akan tersenyum melihat kamu pergi dengan sengsara.
Tanpa kulit mulus dan muka porselin kamu.
Tanpa penis.
Tanpa harga diri.
Tapi itu hanya angan2 dalam bengong saya.
Untung saya waras.
Tidak seperti kamu yang kata mereka sinting.
Beruntunglah, kamu masih hidup dengan kulit mulus, muka porselin lengkap dengan penis kebanggaan kamu itu.
Tetap saya bingung.
Kata mereka kamu sengaja membawakan saya bencana
Kenapa kamu sakit hati sama saya?
Bukannya saya yang cinta kamu. tapi kamu tidak pernah cinta saya?
Bukannya saya yang mempersembahkan jiwa raga saya untuk kamu dan kamu slalu diam saja?
Lalu kamu sendiri yang hengkang pergi.
Dan saya hanya ikhlas melepas kamu pergi?
Kalau begitu bukannya harusnya saya yang sakit hati? Bukan kamu?
Saya tetap terbengong.
Udara dingin malam ini merayapi sekujur tubuhku.
Mereka terus mengoceh dan marah.
Saya bingung, mereka tak peduli.
Mereka bilang kamu anjing. Kamu ular berbisa. Kamu binatang buas.
Saya baru tahu.
Ternyata kamu anjing. Ternyata kamu ular berbisa. Ternyata kamu binatang!
Saya kira kamu hanya seonggok daging manusia berkulit mulus, bermuka porselin, berpenis racun.
Saya baru tahu kamu ternyata (juga) binatang.
Seorang bangsat tak bermartabat anak bapak berpangkat.
//the content of this writing is fiction without any intention to insult any particular party, Jan 2009//

No comments:
Post a Comment