1.12.2009

Cintanya Mimpi dan Cinta


Namaku Mimpi. Pagi ini aku terbangun dari tidurku,dadaku terasa sesak, jantungku berdetak lebih cepat. Ku sadar Cinta bukan lagi milikku. Oh, ingin rasanya aku menangis. Tapi apa daya, ternyata tanpa kusadari, 530 hari sudah Cinta bukan milikku. Mungkin selama 529 malam belakangan ini tidurku terlalu nyenyak. Seperti namaku, Mimpi, aku selalu menikmati terbuai dalam indahnya mimpi2ku. Jadi di hari ke 530 ini aku membuka mata, aku baru tersadar, Cinta bukan milikku. Mengingat Cinta, tergenang air mata dipelupuk mataku. Ah aku sedih. Banyak orang bilang, dalam hidup seseorang setidaknya ada satu orang yang keberadaannya sangat berarti dalam hidup seseorang, dan entah apapun yang memisahkan ke dua orang itu, satu orang tersebut biasanya akan selalu teringat dan terngiang. Buat aku, satu orang yang berarti itu adalah Cinta. Cinta mungkin tak pernah tahu seberapa besar dulu aku menyayanginya. Mungkin aku sendiri pun dulu tak tahu bahwa Cinta sebegitu berartinya. Ah ya maklum dulu aku masih muda, aku sering terbutakan oleh ego-ku, oleh dorongan masa mudaku, oleh keingintahuanku akan banyak hal. Jadi dulu mungkin aku belum sadar. Beda dengan hari ini. Tapi yang aku ingat, ada saat dimana aku merasa sangat mencintai Cinta. Kenapa? Cinta orang pertama yang mengajarkan aku bahwa cinta itu indah. Bahwa saling membutuhkan itu menyenangkan. Bahwa saling berbagi itu merupakan sebuah kenikmatan. Bahwa uang itu bukan segalanya. Bahwa bermimpi itu boleh. Bahwa tidak apa2 menggantungkan cita-citamu setinggi langit. Bahwa dalam setiap kekurangan orang lain pasti ada kelebihan. Bahwa setiap manusia di mata Tuhan itu sama. Bahwa jatuh cinta itu rasanya menakjubkan. Yah dari Cinta, aku belajar semua itu. Bersama cinta, aku menjadi dewasa. Tanpa kami sadari kami tumbuh dewasa bersama-sama. Walaupun begitu aku dan Cinta banyak menemui rintangan dan hambatan. Cinta aku dan Cinta mungkin dulu sering dicoba. Sayangnya tak semuanya bisa kami lalui. Tapi untuk aku, Cinta adalah bagian dari mimpi-mimpiku. Mimpi-mimpinya seorang Mimpi. Dulu aku selalu berkhayal akan hari pernikahan aku dan Cinta. Betapa aku akan tersenyum ketika melihat dia mengucapkan janji sehidupsematinya kepadaku didepan penghulu. Betapa jantungku akan berhenti berdetak ketika dia akan bercinta denganku. Berkhayal akan hari2 penuh madu kami. Dimana kami akan merajut bahagia bersama. Bercanda, tertawa, bertatap mesra, bercium hangat, menatap bulan purnama, menghitung bintang2 yang berjajar dilangit yang hitam pekat, berlarian di padang rumput hingga kami kelelahan dan masih banyak lagi sejuta khayalan lainnya. Berkhayal akan anak-anak kami, Cinta kecil dan Mimpi kecil yang dengan bandelnya berlarian di pekarangan rumah kami dan bercanda ria bersama kami. Ah, Cinta. Dari beberapa pria yang sempat kusinggahi hatinya, hanya Cinta yang menetap begitu dalam di hatiku. Hanya Cinta yang ku damba untuk menjadi pendamping sehidup sematiku. Dalam suka, duka, susah, senang. Hanya Cinta. Cuma Cinta. Sayang waktu dan takdir membawa saya dan Cinta ke arah yang berbeda. Sayang Tuhan tak mempertemukan kami dalam indahnya perjalanan di kehidupan duniawi ini. Sayang...ternyata Tuhan berkata kami tidak berjodoh. Dan pagi ini, di hari ke 530, aku serasa tertampar akan kenyataan ini. Cinta sudah bukan milikku lagi. Cinta milik orang lain. Dan Cinta tak akan pernah menjadi milikku. Semua khayalan dan harapan2ku hilang tertiup angin malam. Hilang tersapu ombak besar. Hilang seiring berjalannya waktu. Ah Cinta, hanya dengan Cinta, aku ingin melabuhkan hatiku untuk terakhir kalinya. Menghabiskan sisa hidupku bersamanya. Sayang sekarang semua tinggallah asa yang terputus oleh jarak, asa yang terbakar oleh kejamnya dunia nyata, asa yang terkutuk oleh waktu, asa yang terkubur oleh dosa. Sayang, aku hanya manusia. biasa. Aku tidak bisa membalikkan tanganku dan memutarbalikkan dunia. Aku tak kuasa.
Pagi ini hari ke 530, Cinta dan aku tidak bersama. Cinta milik orang lain.

"Mimmmmpppiiiiiiiiiiiii................................................"


Sebuah teriakan yang melengking membuyarkan pikiranku. Sisir yang sedari tadi kupegang terjatuh dari tanganku. Kudengar langkah kaki mendekat ke arah kamarku dan sosok yang familiar itu berdiri di depan pintu.

"Mimpi, cepat keluar, pak penghulu sudah datang. Tamu sudah ramai."


Yah sosok yang familiar itu, Bundaku. Muka beliau terlihat cemas dan tak sabar berdiri di pintu kamarku. Buyar semua lamunanku. Pagi ini, hari ke 530 Cinta bukan milikku. Ku berdiri dari dudukku, dan di cermin itu kulihat bayanganku. Rambutku tertata rapi, muka ku terpoles riasan cantik, dan tubuhku terbalut sebuah kebaya putih berpayet indah.

"Iya Bunda.."

Aku menjawab panggilan bundaku. Sekali lagi ku melihat sosokku di cermin itu. Tergulir setetes airmata dari ujung mataku. Mata itu kosong, seperti tak bernyawa. Tapi itu mataku. Mata aku, Mimpi. Pagi ini, hari ke 530 Cinta bukan milikku. Kemelangkahkan kakiku keluar pintu kamarku. Disitu kulihat pria itu menungguku. Duduk dengan tegang didepan bapak penghulu.
Pria itu, bukan Cinta. Pria itu pilihan Bundaku.




Januari, Dua ribu sembilan
All characters are nonexistent. Cerita ini hanya rekayasa penulis

1 comment:

Anonymous said...

oooiiii...lumayan kreatif sii..
anyway, i always wish the best for you..