9.16.2008

(Amaretta)


Passion is a sinful bliss blithely committed by two unconnected souls.

Raunchy. Inexorable. Repetitive. Addictive. Explosive. Orgasmic.


I (lust) you

I (dont) Heart you
~xoxo~
AMARETTA



(Amaretta. Part II)


[Bandara Soekarno Hatta. terminal 2. Sabtu sore]

Amaretta berdiri menunggu. Matanya tertuju ke pintu keluar kedatangan penerbangan domestik. Amaretta diam, tak mengeluh walaupun sinar matahari yang menyengat dan rangkaian siul2an abang2 portir dan supir2 pribadi mengganggunya sepanjang ia berjalan dari parkiran nan diujung sana menuju pintu Terminal 2F. Amaretta tetap merasa nyaman with her black dress and red high heels.
Amaretta tetap berdiri diam menunggu. Tanpa berusaha mengecek handphonenya. "Toh tulisannya flight tersebut sudah landing" pikirnya.
10 menit. 15 menit. Amaretta tetap diam mematung. Matanya tetap tertuju ke pintu keluar kedatangan domestik itu.
15 menit lebih sedikit. Sosok itupun terlihat berjalan keluar dari pintu kedatangan. Sosok itu adalah Dia.
Amaretta hanya memandang Dia dari kejauhan.
Kali ini, Dia bukan pacar Amaretta (lagi). Dia mantan pacar Amaretta.
Amaretta tetap diam, menarik nafas dan membatin "Here we go again..."
Dari kejauhan Dia tersenyum dan melambaikan tangannya. Amaretta tetap berdiri mematung, hanya kali ini satu senyum simpul terukir diwajahnya.
Dia, yang ditunggu-tunggu pun akhirnya keluar dari pintu kedatangan. Amaretta tetap berdiri diam. Dia berjalan mendekat. "Hai sayang, sudah lama?" Dia bertanya. Amaretta belum menjawab. Dia sudah memeluknya. Cium pipi kanan. Cium pipi kiri. Ritual standard suatu pertemuan atau perpisahan. "Nope hon, just around 15minutes..." Amaretta menjawab. Mereka pun berjalan berangkulan menuju parkiran.

Amaretta dan Dia. Bukan sebuah cerita (lagi).
Dia bukan pacar Amaretta. Amaretta bukan pacar Dia. Hanya mantan pacar. Teman bicara. Teman berciuman. Teman Melepas Hasrat Manusiawi.
Tidak ada ikatan. Tidak ada aturan. Tidak ada janji bollocks tentang masa depan. Tidak ada gombal murahan tentang ikatan pernikahan.
Hubungan mereka tidak ada deskripsinya.
Peduli setan dengan gunjingan orang!
Amaretta senang. Dia senang. Case closed.
Toh jalan yang mereka tuju berbeda. Titik.

[Sebuah restoran jepang di bilangan pusat Jakarta. Sabtu malam]

Amaretta gembira. Tanpa alasan. Walaupun menu utama mereka tak kunjung dihidangkan. Amaretta tetap tertawa lepas. Dia berceloteh. Amaretta tertawa. Tawa Amaretta tiba2 berhenti ketika Dia mengajukan pertanyaan yang selama ini Amaretta hindarkan dari puluhan orang yang tak henti2nya mencampuri hidupnya. "Aku selalu kira, umur segini kamu sudah menikah, Retta..." Dia berkata. Datar dan pandangannya menusuk ke mata Amaretta. Amaretta diam. Dia berkata lagi "Kenapa kamu belum menikah, Retta?". Amaretta diam. Tawanya berhenti sudah. Mukanya mulai cemberut. Dia tetap menunggu jawaban. "Aku gak tahu", Amaretta menjawab datar, cemberut dan menunduk memandang sushi2 di piringnya. "Kamu butuh menikah, Retta. Kamu beda sama aku. Kamu butuh pegangan di hidup kamu. Kamu harus berhenti main2" Dia melanjutkan omongannya. Tak mengindahkan kekesalan di raut wajah Amaretta. Amaretta tambah kesal "Kamu kira kalau aku bisa, aku gak mau menikah? Inikan bukan pilihan yang aku pilih, hon!" Amaretta kembali menatap sushi2nya. Dia mengambil satu sushi dengan sumpitnya, menyuapkan kemulutnya lalu kembali berbicara. "Aku cuma sayang aja, umur segini kamu masih main2 sama aku. Kamu membuang2 waktu kamu Retta. Pacaran bertahun2 sama siapa itu nama laki2 itu? Selingkuh kanan kiri. Perempuan seperti kamu, cocoknya menikah. Bukan fooling around" Amaretta melotot. Matanya memandang tajam ke dua bola mata Dia. Dua bola mata yang dari awal merupakan ketertarikan Amaretta akan Dia. Amaretta membanting kedua sumpitnya. "AAAhhhhh, F*ck ah. Buat apa sih kita ngomongin ginian. Kamu aja ga percaya pernikahan! You cant even keep your d*ck in your pants, hon! Kalau menurut kamu aku harus nikah, yah kamu aja nikahin aku??" Amaretta memanas. Emosinya memuncak. Dan ia mulai mengeluarkan kata2 kasar. Dia tertawa. Tetap tertawa dan Amaretta mulai merasa mual. Dia menjawab "Aku nikahin kamu? Sayang, kamu nggak cinta sama aku. Sayang pun engga. Kamu cuma nyaman sama aku". Amaretta diam. Tak bisa menampik omongan Dia. Amaretta menarik nafas dan mulai menyuapkan sushi ke mulutnya. Dia pun tersenyum. Puas karena benar.

Amaretta dan Dia. Bukan sebuah cerita (lagi)
Amaretta bermimpi akan pernikahan. Berjanji setia sehidup semati. Membesarkan bayi2 lucu. Dan malam-malam tanpa akhir dengan seseorang yang akan selalu ada disampingnya.
Sedangkan Dia bermimpi tentang malam-malam tanpa akhir dengan berbagai teman tidur. Penuh tantangan dan kebebasan. Dimana dosa hanya layaknya point. Semakin banyak, semakin mendekati puncak kemenangan. Semakin puas. Titik.
Mimpi Amaretta mati dan hancur. Mati ketika malaikat maut mencabut nafas cinta Amaretta dan Bello. Bello, laki-laki yang selama bertahun2 dicintai dan diabdi oleh Amaretta, namun kandas diujung jalan. Sejak itu pula, Amaretta berhenti percaya cinta. Tapi didalam hati Amaretta masih memimpikan pernikahan nan indah penuh keromantisan dan cinta. Dan tentang ini semua, Dia tahu pasti.
Maka dari itu, Dia tahu Amaretta butuh pernikahan.
Bukan seperti Dia, dan entah berapa teman tidurnya.
(Buat Amaretta) Amaretta hanya nyaman dengan Dia. Mantan pacar Amaretta. teman bicara. teman berciuman. teman melepas hasrat manuasiawi. Tanpa harus berharap banyak, tanpa janji2 kentut, tanpa status2 bullshit.
(Buat Dia) Dia hanya senang ada Amaretta. Mantan pacar Dia. teman bicara. teman berciuman. teman melepas hasrat manusiawi. tanpa ada udang dibalik batu, bukan seperti perempuan2 butuh uang berotak dangkal yang seperti biasa Dia tiduri.
Amaretta nyaman. Dia senang. Case Closed.


[Suatu spot di Jakarta. Sabtu tengah malam]

Dia mulai memeluk Amaretta. Dia mencium Amaretta. Amaretta membalas. Dia tertawa. Amaretta tertawa. Mata mereka berbinar-binar. Jantung mereka berpacu kencang. "Lets just have fun, hon..." bisik Dia. Amaretta menjawab "Lets do, hon...". Mereka pun kembali berciuman. Hangat. Mesra. And it leads to another and another. Berujung menjadi suatu malam yang panjang. Melelahkan. Menyenangkan. Tanpa aturan. Tanpa ikatan. Malam itu Amaretta senang. Dia senang. Hanya malam berbulan purnama yang menjadi saksi bisu.Peduli setan dengan aturan!

Amaretta dan Dia. Bukan sebuah cerita (lagi).
Dia bukan pacar Amaretta. Amaretta bukan pacar Dia. Hanya mantan pacar. Teman bicara. Teman berciuman. Teman Melepas Hasrat Manusiawi.
Tidak ada ikatan. Tidak ada aturan. Tidak ada janji bollocks tentang masa depan. Tidak ada gombal murahan tentang ikatan pernikahan.
Hubungan mereka tidak ada deskripsinya.
Peduli setan dengan gunjingan orang!
Amaretta senang. Dia senang. Case closed.
Toh jalan yang mereka tuju berbeda. Titik.




* all characters are nonexistent. cerita ini hanya rekayasa penulis

No comments: