Selagi duduk2 di salah satu lounge di Bandara Soekarno Hatta sambil menunggu waktu boarding pesawat saya...I kept myself busy by reading my mum's magazine..Maunya sih baca yang lain, tapi apa daya berangkat saja saya buru2, majalah2 Business Week yang disediakan di lounge tersebut pun rata2 umurnya sudah expired satu-dua bulan...Jadilah, saya baca majalah Kartini (lupa edisi berapa, tapi cover-nya adalah Nana Mirdad)..yang minggu itu berita utamanya tentu saja topik hangat tentang si Ryan Jombang, selebritis dadakannya Indonesia atas "prestasi2" menyeramkannya itu..Anyway, what made me interested was not the Ryan's case itself (karena sudah puluhan media menyajikan berita itu dan saya sudah bosan)..Di artikel tersebut (pastinya, seperti artikel2 lainnya) membahas tentang psikopat dan tingkah lakunya...Lalu, ada sebuah paragraf yang isinya menyatakan kira2 kalau saya paraphrase (karena saya sudah lupa dengan pasti penulisan kata2nya) seperti ini : "Psikopat (laki2) biasanya berkedok sebagai Mr. Right..dengan kepribadian menarik, penampilan terawat, kedok sebagain "anak manis"..dan bla bla bla bla bla....."...Waduh, saya jadi membaca2 ulang bagian tulisan itu....
"Psikopat biasanya berkedok Mr. Right???!!!!"

[ Mr. Right = Psychopath ???!!! ]
I started to remember one of (my) life decisions that I just made (lately). "I am waiting for my Mr. Right, thus no more playing around with (whoever) Mr. totally wrong"...Lah, tulisan tersebut got me thinking...or should i say re-think akan my quest to find mr. Right? Gimana caranya mencari Mr. Right kalau ada kemungkinan (even the slightest chance) kalau seseorang dengan penampakan Mr. Right ternyata Mr.super duper wrong? Haha...creepy!
Anyway, my quest to find my mr. Right started when I (finally) realized that I didnt even know and understand myself whenever it comes to men department. Dengan kata lain, saya mempunyai kesulitan dalam menemukan laki-laki seperti apa sih yang saya mau? Kesulitan menemukan orang seperti apa sih yang sebenarnya dapat membuat saya merasa "Okay, this is it. From now on, I'll be a loyal person. Full stop" . Sebagai seseorang yang berzodiak Gemini, saya sering mendengar bahwa konon katanya individu2 berbintang gemini mempunyai dua sisi dalam kepribadiannya, maka dari itu para Gemini (katanya) cenderung fickle, gampang berubah mood (wishy-washy, moody), dan katanya siyh kepribadian A dan kepribadian B dari seorang gemini bisa muncul kapan saja, dan mostly sangat berkebalikan antara A dan B (check out : www.astrology.com). I personally don't really believe in astrology, let alone making it as my guidelines in living my life. But what i do realize (regardless of all the Gemini's general characteristics) , I have a contradictory personality when it comes to my taste of finding man.
I once had a long-term relationship. It lasted for more than 5years (almost 6years), well in my own words, i say countless years. Saking lamanya. This guy, lets say Mr. Brightside, is a person whom I thought is the kind of guy that i'm looking for, for future life. Seperti nama julukannya, Mr. Brightside, is a nice decent guy who lives his life following the mainstream. Dia sabar menghadapi saya, ramah terhadap banyak orang, pemikir dalam mengambil keputusan, taat beragama (dibandingkan dengan mungkin rata2 tingkat beribadah laki2 seumuran saya hari gini), in a way, he is a family guy, dalam artian dia sangat perhatian terhadap keluarganya, has this high level of fear of committing sins, bla bla bla...Intinya he was my Mr. Brightside. Ketika saya bersama dia, sedikit banyak ada yang berubah di saya, seperti beberapa larangan untuk keluar malam, partying with my mates, even for putting on some make up or wearing high heels. At some points, I enjoyed being with him. Having someone to give me limitation in living my life. But I honestly felt that I lost half part of me. The other me, yang tidak nyaman dengan kemonotonan, dengan hal2 yang begitu2 saja..intinya yang menyukai hal2 yang berkebalikan dengan segala sesuatu yang telah dia berikan dalam relationship saya dan dia. Intinya, separuh dari diri saya merasa bosan. incomplete.
Memasuki (sebut saja) tahun ke-n, I met someone. This part of my life used to be "off the record", atau dalam kata lain i always kept it to myself dan beberapa significant people. Tapi somehow, this someone, sebut saja Mr. X, is the person who actually made me realize the other part of myself. Saya dan Mr.X bukan tidak sengaja bertemu seperti dalam cerita serendipity. Well lets skip the part of the processes of how why and when it all started, bagian tersebut biar saya saja yang simpan. Tapi Mr. X is a totally different person from Mr. Brightside. As a man who is already committed to someone (in a sense of a relationship, not a marriage!), he is the guy whom most people would refer to as a "player" or "womanizer" or whatever the word is. Komitmen yang dia buat dengan pasangannya tidak menjadikan halangan untuk dia menjalin hubungan dengan beberapa wanita lain. He made it seems like his life is so full of freedom, not even close to the mainstream, challenging, not judgmental at all and somehow it attracted me. Singkat cerita, I fell in love with him at the same time when I was still in love with Mr. Brightside. Yaah, call me whatever you like...A traitor, tukang selingkuh, atau apalah...I admit I was wrong. Tapi dari Mr. X, i found that the other part of me revived. It became alive, as if all those times, another part of me was heavily sedated but then he brought it back to life again. He was the only person whom I thought I could express anything freely,,without limit,,without the fear of being judged,,without the fear of violating norms. He tolerated the wilderness in me. Fakta bahwa dia, seorang womanizer yang memang mungkin senang bersenang2 dengan perempuan2 dan bisa meninggalkan mereka kapan saja tidak mempengaruhi my perceptions of him. He (somehow) completed my life.
I know what I did is really wrong. Dan saya tidak akan menjustifikasi kebenaran dari perilaku saya. What I felt was completeness, by loving two persons at the same time. To make this story shorter (and to prevent any party to be at a disadvantage), cerita saya dan Mr. X bertahan cukup lama ( berapa lamanya cukup saya saja yang tahu) dan akhirnya hubungan tanpa status jelas itupun came to an end, entah karena terpisah jarak dan waktu, atau beberapa perempuan lain yang juga muncul selama cerita saya dan Mr.X atau memang sudah dari sananya jalan saya dan dia begitu...saya pun tidak tahu. Dan saya pun kembali dengan ke-monogami-an saya dengan Mr. Brightside. Mr. Brightside dan saya, ibaratnya listrik yang suka mati hidup, hubungan kami pun seperti itu. Bahkan the fact that he once had an affair, tidak merubah pandangan saya akan dia yang tetap "Brightside".
After Mr. X, i found that myself is always..always attracted to bad guys...baik yang dari kelas amatiran ataupun yang jam "terbang tinggi".... Semua tipikal anak manis yang ada di Mr. Brightside made my other part suffered. Satu kali lagi, i repeated my mistake, and got emotionally attached to one womanizer, sebut saja Mr. Unnamed. Berbeda dengan hubungan saya dan Mr. X yang bisa dibilang mutualisme (and whom I actually did love). The story of Mr. Unnamed in my life only left scars in my heart and my memories. What made it similar to Mr. X story is that Mr. Unnamed's charm, -that somehow made it seemed obvious that he is a bad boy who is hard to get-, is the main reason that made me attracted. Stelah cerita Mr. Unnamed berakhir. There I was, tetap dengan "hubungan manis" saya dan Mr. Brightside. After trying to weather so many storms, saya dan Mr. Brightside finally quit. For good. Dan saya pun, bingung...bingung menentukan apa yang saya mau?
Lalu saya bertemu, Mr. Y. Mr. Y mempunyai kecenderungan yang sama dengan Mr. Brightside, "the nice-decent-mama boy" type...,hidup dengan mengikuti mainstream. I did decide to have a relationship with him. Tapi lagi2, saya terkukung dengan rasa kebosanan yang amat sangat. I was tired to be the one who took charge of everything, yang harus mikir mau kemana, ngapain lagi ya, bla bla....ga bisa ini ga bisa itu...intinya saya lelah karena harus selalu saya yang ambil inisiatif. Dan my other part (the wilder part) suffered, begging to be released. So as predicted, saya dan Mr. Y hanya cerita angin lewat.
The last (recent) man, whom I emotionally attached to, sebut saja Mr. B (lagi2) seorang womanizer. Dengan tipikal yang mirip2 Mr. X ataupun Mr. Unnamed; charming, promiscuous, knows how to treat a woman, difficult to predict, wild, full of freedom, lively, know how to play his games. Kali itu, saya berusaha stick dengan keputusan "Okay, maybe if i cant stand all the good-mama-boy thingy, then i should stick with one "womanizer" and all the consequences". At some point, hidup saya memang agak terasa lebih hidup bersama seseorang seperti dia, surprising, penuh warna, tidak khawatir akan judgments, wildly entertaining..intinya terasa lepas...Yet, as it turned out, sticking with only one man with all the womanizers' characteristics made my life more puzzling. Penuh dengan kecurigaan dan praduga2 ga penting yang cuma berbuntut pikiran2 negatif...curiga dia lagi apa, mikirin kira2 dia lagi ama perempuan yang mana hari ini...bla bla bla....Yang ada jadi pikiran negatif tersebut hanya berbuntut stress. Dan tanpa diminta, my other part (the calmer part), -yang menikmati keberadaan laki2 dengan karakter2 seperti Mr. Brightside-, reappeared and begged to be released...Then, Mr. B pun berhenti peranannya sampai disitu....
Lalu balik ke diri saya, I am utterly confused. Not knowing which part of myself that I must fulfill in order to get what I want and need in a man. Disitulah saya memutuskan untuk menunggu datangnya Mr. Right, dan berhenti messing around with (whoever) mr. totally wrong. Saya juga menyadari bahwa, kebiasaan saya mengikuti dua bagian dari diri saya yang bertolak belakang adalah suatu hal yang sangat salah. I am aware of all the mistakes i made in my past, of the people that i have hurt, during the time where i let ego took control of everything. And i admit that committing betrayal is such an indecent behavior. Yet, instead of drowning myself in my guilts, i prefer to see my past as a learning process to build a 'better me'. As a result, here I am in my quest to find my mr.right..
Dalam kebimbangan saya...dimana saya sendiri pun sulit menentukan "what i want and what i need in a man".....Artikel "Ryan Jombang" membuat saya kembali berpikir akan betapa susahnya menemukan seseorang yang benar2 tepat....
Lets say, in my case, I personally have difficulties in determining what i need and search in a man...I am still struggling with all the contradictory parts in me....Hal ini bisa dibilang "internal things", hal2 yang berkaitan dengan diri dan perasaan saya sendiri, dimana saya lah yang mempunyai hak absolut sebagai decision maker...But IF, IF i have made a decision of determining what i want...Tapi keputusan tersebut ternyata tidak serta merta akan didukung oleh keadaan sekitar...dimana hal2 "external" dapat berpengaruh....seperti merasa menemukan seseorang yang mungkin sudah sangat sesuai dengan syarat2 seorang "Mr.Right" (that a person has decided), eh turn out ternyata orang tersebut bisa menjadi totally salah....even the worst seorang psikopat...Lah, JADI GIMANA DONK??
Saya sendiri gak tau. Bad boys? Good boys?.

[ Mr. Promiscuous ] versus [Mr. Brightside]
Entahlah. Either Mr. Nice guy or Mr. Promiscuous. Saya rasa hanya dua hal yang dapat menentukan siapa yang "tepat", GOD the Almighty dan tentunya, TIME..waktu..Everything is just about time. Yang pasti saya rasa, kita sendiri sebagai individu hanya harus berhati2 dalam setiap langkah...tooohh katanya Jodoh ada di tangan Tuhan dan there must be someone for everyone.....(many sources, 2008)
Yah mudah2an aja jangan sampai dapat jodoh dengan format seperti si Psikopat berkedok Mr. Right...hehe...
(dan terhindar dari any kind of affair or adultery...hehe)
~XoXo~
"For some unknown reason, BAD-BOYS DRAW YOU IN despite the fact that they are Jerks" (Alexis Bledel, 1981)
"Promiscuous boy, I'm calling your name..But you're driving me crazy the way you're making me wait..." (Nelly Furtado)
"The only way to get rid of a temptation is to yield to it."- Oscar Wilde (1854-1900)
"The bad things in life open your eyes to the good things you weren't paying attention to before."
(from the movie "Good Will Hunting")"When things are baffling they usually don't unbaffle themselves.There's just, you know, a certain amount of baffling stuff that always, like, really baffles you, and I've found that it's best to accept bafflement whenever it comes along, and then move on."
(Dean Koontz, Source: One Door Away from Heaven)


No comments:
Post a Comment