Mata saya sudah sangat perih dan lelah. Badan saya rasanya sudah ngilu2...Tapi berkali-kali saya coba pejamkan mata, dari membaca doa hingga menghitung domba pun, saya tak kunjung tertidur...Saya beranjak menuju meja rias saya. Hmph! Bayangan yang ada di cermin memantulkan jelas sosok seorang perempuan kecapean, rambut berantakan dengan mata seperti mata kodok. Bengkak dua-duanya. I tried to re-apply my night cream and eye cream, dengan harapan bisa membuat mata saya setidaknya terlihat lebih baik.
Malam ini malam ke lima saya benar2 total insomnia. Lima hari ini semaleman saya bisa sibuk mengerjakan apapun sampai sahur, lalu setelah sahur pun saya tetap terjaga hingga kira-2 jam 7 pagi, saya baru bisa tertidur. Tapi yang pasti mata kodok saya bukan hasil dari begadang lima malam berturut-turut...
Kemarin malam, I spent all nite doing some writings, dengan mood saya yang datar. Setelah lelah terjaga semaleman, menjelang mau tidur tadi pagi, telpon CDMA saya berbunyi...males2an saya ambil. Tak diduga dilayar handphone saya tertera nama "Mr.Bipolar"...Wow, whatta a surprise. Sudah kira2 satu minggu makhluk tersebut hilang seperti ditelan bumi..dan sebenarnya I had been waiting for his calls, tapi saya menyerah untuk menunggu setelah hari ketiga dia tidak kunjung muncul...So, as it happened, his call made me excited, karena despite the fact he pissed me off, (gengsi mengakui) tapi I do miss him =p...Yah seperti typical Mr. B dan keanehannya, lagi2 pagi tadi saya boro-boro punya kesempatan buat ngomel2 atas keabsenannya..Kira2 dia memulai percakapan seperti ini:
Mr.B : "Hallooooo....kamu kok pagi2 udah bangun??" (nada centil "ga ada apa2" mode on)
Saya : "Aku belum tidur dari sahur"
Mr. B : "Ohh, kamu kemana ajaa sihh ngilang? sombong banged sama aku, kamu pasti punya toyboy baru ya? trus makanya aku dicampakkan..." ( seperti biasa membuat statement2 berkebalikan dengan fakta dan tidak masuk akal )
Saya : "Hon, yang ngilang tuh kamu! bukan aku, palingan juga kamu yang kerjaaannya punya mainan baru mlulu..." ( kumat negative thinking dan parno akan ke-womanizer-an mr.B )
Mr. B : "Aku ga ngilang....nih aku cariin kamu....abis kmu nyuruh puasa mlulu..aku kan ga kuat puasa....ntar kmu bawel..."
Saya : "Hmph...ya tesera deh..." (biasa, pasrah...)
...................................
Percakapan saya dan dia berlangsung cukup lama, dan seperti biasa, Mr. B acted like nothing happened. Dan saya juga malas memperpanjang omongan yang memancing emosi, so as usual we talked...lumayan lama, sampai akhirnya saya tertidur. Dan selama tidur malam yang saya pindahkan jamnya ke pagi sampai siang itu, seperti biasa kalau sudah kumat rese-nya Mr. B called me again several times. Ganggu! But however, those petty unimportant phone calls just made me thrilled...terhibur sama crita2 bodohnya yang nyebelin..tapi selalu ngangenin kalau orangnya sedang lenyap..Saya pun akhirnya tertidur nyenyak dengan mood lumayan bagus...Setelah (akhirnya) dia mengakhiri kebawelan gak pentingnya (disaat2 seharusnya saya tidur) karena ada meeting dadakan...So, I went back to sleep and somehow, happy.
Setelah entah tertidur beberapa jam saya akhirnya benar2 terbangun oleh kepanikan sahabat saya, Foksi. Kepanikan karena apa, biar saya aja yang tau. Tapi kepanikan Foksi ditengah2 tidur saya cukup ampuh untuk membuat saya akhirnya benar2 melek dan sadar. Setelah berusaha menyemangati Foksi and convinced her that things will be alright. Seperti kebiasaan saya setiap bangun tidur, I checked my emails. Mata saya meng-scan deretan2 email baru yang ada di atas....from Miss Cranky...from Miss Delusional...Promosi ga penting..lalu there it was! Email yang sudah seminggu lebih saya tunggu2....ber-title-kan "Result"....Tiba2 perasaan saya ga enak, tapi tetap berusahan positif....I opened the email, downloaded the file...dan ketika file pdf itu terbuka, kata-kata pertama yang langsung otomatis ke-scan mata saya adalah..."we regretfully inform you...bla bla bla bla bla....." Tanpa perlu membaca kelanjutannya, I just knew it...Saya diam beberapa detik. Berusaha mengkontrol pikiran saya...Tried to prevent emotional outburst...Du di du di du....Brusaha ngatur nafas...tapi yaaahhh...akhirnya tak terbendung juga itu airmata...Makin lama makin deres...And i barely could control it....There I was, after quite sometime of not having any emotional outburst...I could not control my mind and I cried my eyes out...and not mustering the ability to cease it... I picked my mobile and called my mum...as predicted, ibu saya menjawab dengan santai dan bilang saya harus berhenti nangis, belum jodoh kata beliau...."Berarti kerjaan itu bukan jodoh kamu, pasti nanti ada yang jauh lebih baik. Good things will come eventually. Udah jangan nangis". Then I called my dad, and as predicted, jawaban beliau sama santainya sama mama saya....Tidak ada sedikitpun nada kekecewaan atau marah didalam suara ibu dan bapak saya...Padahal saya sendiri, merasa sangat gagal....
Saya menarik nafas dalam2...berusaha berhenti menangis....Toh buat apa nangis? Ibu bapak saya aja santai...Tapi tetap saja tangisan saya tidak bisa berhenti, malah makin menjadi-jadi...I dialled my best friend's mobile....jawaban dia sama santainya "Udahlah, emang bukan jalan lo buat tinggal di tengah hutan...Emang takdir lo jadi city girl....nanti juga ada yang lebih baik"
Saya tetap kesal. Kesal karena tadi pagi saya lagi dalam mood yang hepi, trus bangun tidur tiba2 keadaan tiba2 nge-drop drastis. Well, email itu...email penolakan sopan atas satu pekerjaan yang memang saya inginkan, dimana saya telah melalui berbagai proses ribet sampai ke proses paling akhir. That job offered a really mouthwatering amount of salary. Walaupun konsekuensinya akan ditempatkan jauh dipedalaman hutan di pulang sebrang. Tapi mengingat selama my quest to find the right job, belum ada yang menawarkan nominal yang nampaknya bisa membuat saya memenuhi obsesi saya akan Labels seperti pekerjaan tersebut. Jadi, i was actually willing and ready to sacrifice my life as a city girl (born city girl, raised city girl) to live (literally) in the middle of the jungle, for the sake of Chanel, Louis Vuitton, Trip to New York, Party again to Ibiza and all the things i have written on my "wish list before turning 30". Tapi apa kata nasib berkata lain...I dont get the job.
Saya masih menangis. Tetap kencang. Malas beranjak dari tempat tidur. Tetap menangis. Tapi jujur saya, saya tidak marah. Tidak marah pada diri saya. Tidak menyalahkan diri saya. Beberapa hari terakhir doa yang saya panjatkan ke Tuhan kira2 begini bunyinya "Tuhan, kalau memang hal tersebut terbaik untukku, walaupun ditempatkan di tengah hutan, then let it be easy for me.But if its not the best for me, then may I get a better one instead". Saya tidak religius. Saya tidak agamis. Boro2 muslim yang taat. Saya hobi partying with my friends. Saya juga berteman baik sama tequila, martini, malibu, baileys atau minuman memabukkan lainnya. Jadi disini saya tidak mau menggambarkan bahwa saya sok2 taat dan agamis dengan menceritakan bagian saya berdoa. However, selama ini i always try to keep my life balance antara ibadah dan hal2 yang dilarang agama. Begitulah pilihan saya. Terbawa dengan suasana Ramadhan di Jakarta, tahun ini pertama kali saya menjalankan ibadah puasa ditengah2 keluarga saya. Setelah dua tahun berturut2 jauh dari keluarga dan banyak absennya dalam menjalankan ibadah. Maka dari itu terbawa suasana rumah dan berusah make up my bad atas banyaknya kesilapan yang saya lakukan di Ramadhan tahun2 sebelumnya. Tahun ini saya berusaha lebih baik, dan berusaha menjalankan yang wajib dijalankan. Maka dari itulah berdoa juga menjadi bagian dari hal-hal yang wajib saya jalankan. So anyway....saya tidak marah. Karena merasa surat tersebut hanya jawaban dari doa saya, bahwa memang kerjaan tersebut mungkin bukan yang terbaik untuk saya. Tapi saya sedih. Saya hanya sedang sedih dan ingin menikmati kesedihan saya. Maka dari itu saya menangis. Menangis sampai sesak tak tahu bagaimana cara berhenti.
Disela tangis saya, i feel blessed that my parents never put any pressures on me with whatever options i chose regarding my career. Also feel blessed that my best friends always stand by me. Tapi yang saya tahu akan tetap terjadi selanjutnya adalah penilaian orang2. BLEH. Ingat itu tiba2 saya mau muntah. Satu hal yang merupakan pendapat "kontra" saya untuk pulang ke tanah air ketika saya masih tinggal di negri orang adalah, orang2 dan mulut resenya. Maaf bukan mengeneralisasikan, tapi in my opinion, most of Indonesian people (at least people that I know) sangat erat dengan sifat jelek yang selalu ikut campur,,very NOSY,,very judgmental towards others' lives seakan-akan hidup mereka udah paling bener,,also very judgmental of others' choices. Sebelum memutuskan untuk pulang, saya teringat abang spupu saya yang sudah belasan tahun mendamparkan diri di Negri Paman Sam dan enggan pulang. Sempat saya tanya kenapa, dia jawab "Males gw kalo pulang, mulai dari nol lagi. Semua orang ikut campur. Mending gw disini. Yah selamet deh ama pilihan lo". Tapi toh akhirnya saya pulang juga ke Jakarta. Saya pulang. Ibu bapak saya senang. sahabat2 saya senang. Tapi (as predicted) orang2 lain yang gak senang....
Sebagai seorang manusia yang dilahirkan dengan hak asasi, saya mempunyai kebebasan mutlak atas jalan hidup yang saya pilih. Kebebasan mutlak dimana saya adalah satu2nya decision maker dari hal apapun yang saya pilih dalam hidup saya. Sekembalinya ke Jakarta, saya memilih untuk "memilih" pekerjaan. Saya memutuskan untuk mencari pekerjaan yang benar2 sesuai dengan yang saya mau. Saya memilih untuk tidak melibatkan bapak saya, ibu saya, kolega bapak saya, pak de saya ato siapapun lah untuk melancarkan jalan saya. Dan semua itu PILIHAN SAYA. KARENA INI HIDUP SAYA. Kalaupun banyak orang lain memilih jalan yang lain seperti; take the first job that they were offered, kerja apapun dulu asal pengalaman nanti keluar lagi, kerja dengan gaji berapapun, kerja dengan memanfaatkan power dan network, bla bla bla...Yah itu PILIHAN MEREKA. and I respect that. Yang buat saya bingung, kenapa most of the people (selain orangtua dan sahabat2) yang saya temuin tidak ada satu pun yang menghargai pilihan saya? Mereka sibuk men-Judge saya, menyalah2i saya, menyampah2i saya , mengata2i saya, membodoh2i saya, dan segala macem tetek bengek orang2 yang slalu ikut campur. Padahal kan ini hidup saya, pilihan saya, hak prerogatif saya untuk menentukan apapun. Toh bukan mereka yang menanggung hidup saya. Bukan mereka yang membanting tulang membiayai skola2 saya yang kata mereka ada berentet ga habis2nya. Beberapa ilustrasi dari kejadian yang sering terjadi beberapa bulan ini:
(sebuah acara keluarga)
Suami tante A (sebut saja Om A) : "Lho ngapain balik ke Inggris lagi?"
Saya : (dengan sopan) "Oh iya mau wisuda om"
Om A : "Buat apa wisuda aja dateng! itu kan ga wajib!"
Saya : "Bapak dan Ibu pengen hadir om"
Om A : (sewot) "Halah ga penting itu dateng2 wisuda, buang2 uang aja ke sana lagi"
Saya : (kesal) "Yah bukan om yang bayar juga kan? Heran!" (melenggang pergi)
(sebuah arisan)
Tante X: "Lho katanya baru pulang liburan ya sama temen2? Ngapain sih buang2 uang aja, udah kerja belum?"
Saya : "belum tante, nunggu yang cocok"
Tante X : "Lhoo toooh ya kapan dapet yang cocook! masa lulusan luar negri kerjaannya di rumah aja. Pergi2 liburan mlulu lagi, buang2 uang aja, mbook ya cari duiit toh neng! Kerja jadi apa kek, jadi pelayan kek, jangan buang2 uang mlulu"
Saya: (kesal) "Sewot amet tante, yang saya buang2 juga bukan uang tante!" (ngacir pergi ninggalin tante X yang tambah ngomel)
(Dalam ratusan kali kesempatan)
Peeps : "Udah kerja dimana??"
Saya : "Belum, masih freelance aja"
Peeps : "Ah masa si lulusan luar, belum kerja2 tetap"
Saya : "belum ada yang cocok" (berusaha sabar)
Peeps: "Kenapa ga cocok?? pilih2 ya gajinya? duh dimana2 tuh ga ngaruh mau lulusan mana yang penting ada experiencenya..."
Saya : "bukan masalah gaji aja kok, emang belum ada yang jodoh aja"
Peeps :"ah masa sih, pasti deh picky, pilih2, jangan terlalu sombonglah....tuh kerja di bank aja, kan banyak bukaan"
Saya : "Ngga picky kok, cuma emang ga gitu pengen di bank"
Peeps : "Lho minta tolong aja ama papanya atau saudaranya, ato minta uang aja bikin bisnis" (dengan nada menggampangkan)
Saya : "Ntar dulu deh masih mau usah sendiri dulu nyarinya. Masih sabar kok" (tetep berusaha sabar)
Peeps : "Ah ya hari gini gimana bisa kerja klo sok2 idealis ga mau pake network...sok2 idealis pasang harga..ya susah ga akan dapet"
Saya : "iya gapapa, kalo emang susah, aku sabar aja kok nunggu dan usaha"
Peeps : "Ah dasar sok idealis...bla bla bla bla bla"(berjuta2 kalimat full of judgment)
Begitulah kira2 ilustrasi dari percakapan2 yang sudah sangat sering saya alami. Dengan orang2 yang selau saja Nosy. Kadang saya bingung, kalau memang ada orang2 yang paling pantas untuk menjudge dan menuntut banyak hal dari saya, yah cuma bapak ibu saya. Toh mereka yang melahirkan saya, membesarkan saya, membiayai skolah saya dari playgroup sampai master dan puluhan kursus2 yang saya ambil, tapi ibu bapak saya saja sekali pun tidak pernah menuntut saya untuk mengambil keputusan yang berbeda dengan prinsip saya when it comes to my career. Mereka santai saja, of the fact that i am not permanently employed yet. Saya heran, kenapa orang2 lain selalu begitu keterlaluan ikut campur dan men-judge hidup orang? Its not like they care. One thing I learn from nosy people, they actually never give a sh*t, they never care, the ONLY THING they care about is the enjoyment of condescendingly judging others' lives. Bukannya memberi solusi yang membantu, rata-rata mereka cuma senang aja membuat seseorang feels bad about oneself.
Akhirnya saya beranjak menuju kamar mandi. Masih dengan sisa isak tangis. Tiba2 teringat bahwa lebaran sebentar lagi datang dan akan ada banyak omongan2 pedas orang yang harus saya dengar. HMPH! Saya hanya tarik nafas, Saya lelah. Toh, apapun yang terjadi, people will never stop being nosy to others. Seperti rantai yang tak berujung, ketika masih kuliah orang2 sibuk mau tahu kapan lulus, setelah lulus sibuk mau tahu kapan kerja dan saya yakin pun nanti ketika saya sudah menemukan jodoh pekerjaan saya, orang2 akan tanya hal2 lain, kapan menikah, kapan punya anak, et cetera et cetera...Tidak akan habis. Ya sudahlah, let them say what they want to say. Toh ini hidup saya. Pilihan saya. Marah pun, tidak akan membuat orang2 berubah. Kalau memang kali ini saya masih gagal, karena memang belum saatnya saja. Belum jodoh! Bukan karena saya berdosa atas mempunyai pilhan2 saya sendiri dalam menentukan jalan hidup saya (seperti yang sering dituduhkan orang2). Saya mulai menyalakan pancuran air. Memejamkan mata saya, dan untuk sesaat tetap menikmati kesedihan saya.
Mata saya bengkak seperti kodok. Tapi sore itu saya harus menyelesaikan tugas saya untuk kerjaan freelance saya, which for me it matters, (walaupun mungkin orang2 akan tetap mendiskreditkan). At least whatever happens, i stick to my responsibilities. Jadilah saya berangkat ke luar rumah. Tetap dengan mata kodok saya and the enjoyment of my grief. "Hari ini saya sedih, tapi cuma hari ini saja, besok everything's gonna b alright".
Dan malam ini....itulah bayangan yang saya lihat di cermin saya, perempuan bermata kodok. Yang hari ini mengalami happy mood dan upset mood. Padahal saya tidak merasa pernah membeli tiket terusan untuk naik halilintar didufan, tapi entah kenapa hidup saya tak henti2nya bagai rollercoaster..Hmph..Tidak puas dengan night cream dan eye cream. Saya mengambil masker dan mulai memakaikan ke muka saya..Lalu saya pun mulai beranjak ke tempat tidur...Membuka laptop...dan memulai tulisan ini.....And I believe whatever happens, I will weather the storms...and good things will eventually happen to those who wait...
"I can make it through the rain....I can stand up once again....On my own and I know....That I’m strong enough to mend...And every time I feel afraid...I hold tighter to my faith...And I live one more day....And I'll make it through the rain (Through the rain, Mariah Carey)"
"They can say, Anything they want to say, Try to bring me down, But I will not allow anyone to succeed hanging clouds over me..
And they can try,,Hard to make me feel that I, Don't matter at all,,But I refuse to falter in what I believe or lose faith in my dreams
'Cause there's, There's a light in me,That shines brightly,
They can try, But they can't take that away from me
They can do,,Anything they want to you, If you let them in,,But they won't ever win,
If you cling to you pride, and just push them aside, I have learned,
There's an inner peace I own,,Something in my soul that they can not possess...So I won't be afraid and the darkness will fade...
They can't take this Precious love I'll always have inside me,
Certainly the Lord will guide me where I need to go......
They can say....Anything they want to say,,,Try to bring me down,
But I won't face the ground,,,I will rise steadily sailing out of their reach,
Oh, Lord, they do try,Hard to make me feel that I,,Don't matter at all
But I refuse to falter...In what I believe or lose faith in my dreams,
'Cause there's a light in me,,,That shines brightly
They can try but they can't take that away from me...."
(Can't take that away,- Mariah Carey)






No comments:
Post a Comment